BAYI BINGUNG PUTING, ASUPAN ASI TIDAK MAKSIMAL

Merasa sudah maksimal menyusui tapi bayi masih rewel, bun? Sudah sering menyusui tapi berat bayi tidak naik-naik? Atau merasa sudah cukup disusui tapi bayi kok jadi kuning ?

Mungkin bayi bunda sedang “bingung puting”, pernah mendengar istilah ini bun? Yuk kita bahas disini…

Sebelumnya seperti yang kita ketahui, bayi perlu mendapatkan asupan ASI karena terdapat kandungan energi serta nutrisi yang ia butuhkan selama masa perkembangan bayi atau usia 6 bulan hingga mencapai 2 tahun. Namun, ada kalanya ibu mengalami tantangan selama menyusui seperti bayi yang mengalami bingung puting

Sejalan dengan semakin tingginya kesadaran ibu untuk tetap memberi ASI walau harus kembali bekerja, penggunaan dot pada bayi yang menyusu pada ibunya juga menjadi semakin sering dijumpai. Namun, meski telah mempersiapkan stok ASI perah sejak awal, seringkali ibu bekerja tetap kesulitan untuk bisa menyusui bayinya hingga minimal 2 tahun.

Masalah yang paling sering terjadi adalah setelah beberapa lama kembali bekerja dan bayi menggunakan dot, produksi ASI atau hasil memerah ASI terus menurun dan tidak sedikit bayi mulai menolak payudara. Kondisi ini disebut gejala bingung puting. Banyak yang menganggap bingung puting sebagai mitos belaka karena ada bayi bayi yang walau sudah kenal dot tetap mau menyusu pada ibunya. Padahal jika diamati lebih lanjut, sebenarnya bayinya sudah menunjukkan gejala awal bingung puting.

Tanda-tanda Bingung Puting

Banyak yang menganggap bingung puting diakibatkan karena bayi tidak lagi bisa membedakan antara dot dan puting ibu. Menurut pakar laktasi asal Kanada, dr. Jack Newman, FRCPC, sebenarnya bayi bukan “bingung”. Bayi tahu apa yang diinginkan, tapi ketika bayi yang mendapat aliran yang lambat dari payudara kemudian mendapat aliran yang lebih cepat dari dot, dia akan memilih mana yang lebih disukainya.

Bingung puting tidak selalu ditandai dengan penolakan payudara. Bayi yang sudah “lupa” atau “bingung” bisa saja tetap mau menempelkan mulut pada payudara ibu, namun pola hisapannya sudah berubah dan dia tidak lagi dapat mengeluarkan ASI secara optimal atau tidak menyusu dengan baik. Akibatnya, produksi ASI ibu menurun. Hal ini tidak jarang ditemui, yaitu ibu merasakan penurunan produksi ASI sebelum menyadari gejala bingung puting pada bayinya. Berikut ini adalah tanda-tanda bingung puting (Sumber: La Leche League International):

  • Bayi membuka mulut tapi tidak cukup lebar untuk melekat dengan benar di payudara.
  • Ketika hendak disusui, bayi menggoyangkan kepala, mencari-cari puting dan kelihatan bingung.
  • Bayi menjerit dan/atau melengkungkan punggungnya saat akan disusui.
  • Lidah bayi tidak menjulur ke garis gusi bawah tapi justru terangkat.
  • Bayi tampak melekat tapi tidak menghisap dengan benar.

Bagaimana cara mengatasi bingung puting?

Buat bayi terbiasa dengan puting untuk cegah bayi bingung puting. Idealnya, untuk menerapkan cara mengatasi bingung puting, Bunda boleh tidak memperkenalkan metode minum ASI perah dari dot, sendok, atau cupfeeder. Namun, jangan sampai hal ini membuat Bunda merasa antipati dengan media memberi ASI perah lain. Sah-sah saja memberikan ASI perah dengan dot.

Selain itu, bunda bisa mencoba beberapa cara mengatasi bayi yang bingung puting ini:

  • Mulai untuk mengenalkan puting di setiap waktu bayi harus menyusui.
  • Gunakan ukuran dot kecil sehingga keluarnya ASI perah tetap terbatas dan tidak terlalu deras.
  • Pastikan baik ibu dan bayi sudah menemukan teknik menyusu yang sama-sama nyaman.
  • Jika bayi merasa frustrasi saat ASI tak kunjung keluar ketika menyusu langsung, Anda bisa memerah ASI terlebih dahulu hingga merasakan let-down-reflex, yaitu saat ASI keluar lebih deras.
  • Bangun ikatan dengan bayi untuk tahu kapan bisa menyusu langsung dengan ibunya dan kapan harus lewat media lain.

Hal terakhir yang harus dilakukan jika ternyata bayi masih menolak untuk menyusu langsung adalah berkonsultasi dengan ahli laktasi. Ia akan mengajari Bunda menyusui yang baik dan membuat Si Kecil tenang saat harus (kembali) berusaha menggunakan mulut untuk memompa ASI dari payudara. Memang ini akan membutuhkan waktu dan usaha lebih, tapi tak boleh patah semangat ya Bunda.

Ditulis oleh

Bidan Novita Wulandari, Amd.Keb

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *